Kabut Asap Disebut Normal, Benarkah?
PALANGKA RAYA — Pernyataan Kepala BNPB bahwa aktivitas masyarakat Kalimantan Tengah masih berjalan normal di tengah kabut asap patut menjadi bahan renungan.
Memang pasar masih buka, kendaraan masih melintas, pedagang masih berjualan, dan masyarakat tetap bekerja. Tetapi apakah itu berarti kondisinya benar-benar normal?
Tidak lumpuh bukan berarti tidak terdampak.
Masyarakat tetap beraktivitas karena kehidupan harus berjalan. Kebutuhan makan, pekerjaan, sekolah dan ekonomi tidak bisa begitu saja berhenti hanya karena udara dipenuhi asap.
Yang perlu dipertanyakan bukan sekadar apakah masyarakat masih beraktivitas, tetapi udara seperti apa yang mereka hirup dan risiko apa yang mereka tanggung.
Jika asap sudah mengganggu jarak pandang, penerbangan, bahkan aktivitas penanganan karhutla, maka menyebut kondisi masyarakat “normal” berpotensi membuat persoalan terlihat lebih ringan daripada kenyataannya.
Pemerintah tentu memiliki tanggung jawab menangani karhutla. Namun masyarakat juga berhak mendapatkan informasi yang jujur mengenai kualitas udara, risiko kesehatan dan kondisi sebenarnya di lapangan.
Jangan jadikan ketahanan masyarakat menghadapi kabut asap sebagai ukuran bahwa keadaan baik-baik saja.
Masyarakat Kalteng mungkin masih berjalan, bekerja dan beraktivitas.
Tetapi itu bukan berarti mereka sedang hidup dalam kondisi normal.
Sebab bertahan di tengah bencana bukanlah normalitas. Itu adalah bentuk ketahanan masyarakat menghadapi keadaan yang seharusnya segera diatasi.
