Tekankan Peran Rumah Tangga, DPRD Kalteng Dorong Perubahan Pola Kelola Sampah dari Hulu
PALANGKA RAYA – Permasalahan sampah di Kalimantan Tengah dinilai tidak akan terselesaikan secara optimal jika hanya bertumpu pada penanganan di hilir. Perubahan mendasar justru harus dimulai dari tingkat rumah tangga sebagai sumber utama timbulan sampah.
Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Tengah, Okki Maulana, menegaskan bahwa kesadaran masyarakat menjadi faktor kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan. Ia menilai, pendekatan yang selama ini dilakukan masih terlalu fokus pada pengangkutan dan pembuangan akhir.(10/04)
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti memilah sampah sejak dari rumah akan memberikan dampak besar terhadap proses pengelolaan di tahap berikutnya. Dengan pemilahan yang baik, volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat ditekan secara signifikan.
Okki juga menyoroti perlunya perubahan pola pikir masyarakat terhadap sampah. Ia mendorong agar kebiasaan “asal buang” mulai ditinggalkan dan digantikan dengan budaya pengelolaan yang lebih bijak, termasuk pemanfaatan kembali limbah yang masih memiliki nilai guna.
Upaya tersebut, lanjutnya, harus didukung dengan edukasi berkelanjutan, baik di lingkungan keluarga maupun melalui institusi pendidikan. Literasi lingkungan sejak dini dinilai penting untuk membentuk karakter masyarakat yang peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Selain itu, DPRD Kalteng turut mendorong penguatan program berbasis masyarakat seperti bank sampah. Program ini dianggap mampu memberikan manfaat ganda, yakni menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.
Beberapa langkah strategis yang diusulkan meliputi penguatan edukasi lingkungan di sekolah, revitalisasi bank sampah melalui pendampingan dan akses pasar, serta peningkatan gerakan kebersihan di tingkat desa dan kelurahan.
DPRD optimistis, sinergi antara kebijakan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat dapat menjadi solusi konkret dalam menekan persoalan sampah, khususnya di wilayah perkotaan Kalimantan Tengah.
Dengan perubahan pola pengelolaan dari hulu hingga hilir, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan di wilayah Bumi Tambun Bungai.

