Jurnalis Metro

Satu Wadah Informasi

Hartany Soekarno ; “Pahlawan Masa Kini Ialah Jurnalis yang Menyapiakan kebenaran dan Bermanfaat bagi masyarakat”

PALANGKA RAYA – Dalam suasana tenang di Pandopo Hasundau, kediamannya di Kota Palangka Raya, Sabtu (8/11/2025), jurnalis senior Kalimantan Tengah, Hartany Soekarno, berbagi pandangannya tentang makna kepahlawanan di era modern. Dengan suara pelan namun tegas, ia menggambarkan peran jurnalis sebagai penerang di tengah kegelapan informasi.

“Jurnalis itu ibarat lilin yang menerangi sebuah ruangan. Walau redup, tapi mampu memberi penerangan bagi banyak orang yang hidup dalam kegelapan,” ucap Hartany sambil menatap jauh ke depan.

Ungkapan itu menggema di tengah peringatan Hari Pahlawan 2025 yang mengusung tema “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan.” Tema tersebut, menurutnya, tidak sekadar slogan, melainkan cerminan semangat untuk terus berjuang sesuai peran masing-masing.

Bagi Hartany, jurnalis adalah pahlawan masa kini—bukan karena gagah di medan perang, melainkan karena keberaniannya menulis tentang keadilan di tengah tekanan dan kepentingan.

“Jangan pernah takut menyuarakan keadilan lewat berita yang kita tulis,” ujarnya tegas. “Selama tulisan itu membawa kebenaran dan manfaat bagi masyarakat, di sanalah letak nilai kepahlawanan seorang jurnalis.”

Menurutnya, menjadi jurnalis di masa kini bukan perkara mudah. Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya disinformasi, kejujuran menjadi tameng terakhir. Ia menegaskan bahwa tugas utama jurnalis bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga menjaga nurani publik agar tidak terperangkap dalam kabut kepalsuan.

Hartany meyakini, keberanian seorang jurnalis sejati tidak diukur dari banyaknya berita yang ditulis, tetapi dari seberapa besar dampak positif yang ditinggalkan bagi masyarakat.

“Tulisan yang jujur bisa menjadi obor bagi mereka yang mencari arah,” tuturnya lirih.

Ia juga menyinggung dedikasi para jurnalis yang bekerja di balik meja redaksi, menelusuri lorong-lorong kota, hingga menunggu narasumber larut malam. Meski sering luput dari sorotan, karya mereka kerap membuka mata terhadap ketidakadilan, menyalakan harapan, dan menjaga nurani masyarakat.

Menutup perbincangan, Hartany tersenyum tipis dan berkata,

“Kita mungkin bukan pahlawan yang dikenang lewat patung atau upacara. Tapi selama pena kita menulis untuk kebenaran, semangat kepahlawanan itu akan terus hidup dalam nurani publik.”

Peringatan Hari Pahlawan 2025 menjadi momentum untuk tidak hanya mengenang mereka yang gugur di masa lalu, tetapi juga menghargai mereka yang terus berjuang dalam diam—termasuk para jurnalis yang menyalakan cahaya kebenaran di tengah gelapnya informasi.

Sebab, sebagaimana diungkap Hartany, kepahlawanan bukan tentang besar atau kecilnya peran, melainkan tentang keberanian untuk terus bergerak, melanjutkan perjuangan, dan menyalakan terang, meski hanya dengan sebatang lilin kecil.

Selamat Hari Pahlawan 2025.
Salam jurnalis untuk keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini