Gunung Mas Siapkan Intervensi Serentak, Percepat Penurunan Stunting Mulai Juni 2026
Gunung Mas — Pemerintah Kabupaten Gunung Mas menyiapkan pelaksanaan intervensi serentak sebagai langkah percepatan pencegahan dan penurunan stunting yang dijadwalkan mulai awal Juni 2026.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Gunung Mas, Efrensia L.P. Umbing, usai memimpin rapat internal Tim Percepatan, Pencegahan, dan Penurunan Stunting (TP3S) di Ruang Kerja Kepala Bapperida Gunung Mas, Rabu (15/4/2026).
Efrensia menjelaskan, langkah ini merupakan tindak lanjut atas arahan Kementerian Dalam Negeri yang mendorong pemerintah daerah melakukan intervensi serentak guna menekan angka stunting, baik di tingkat rumah tangga maupun wilayah.
“Dari hasil rapat, kita sepakat melaksanakan intervensi serentak ini. Seluruh perangkat daerah sudah mulai mempersiapkan peran masing-masing, termasuk pembagian tugas yang nantinya akan ditetapkan secara resmi,” ujarnya.
Pelaksanaan gerakan tersebut akan dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Gunung Mas. Kegiatan akan diawali dengan kick off pada awal Juni, kemudian dilanjutkan dengan berbagai aksi berkelanjutan.
Menurutnya, intervensi yang dilakukan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mencakup program jangka menengah hingga panjang, seperti penyediaan air bersih dan kegiatan lain yang berorientasi pada keberlanjutan.
Sejumlah intervensi yang disiapkan meliputi penimbangan balita, edukasi masyarakat, serta intervensi spesifik seperti pemberian makanan tambahan, imunisasi, dan suplemen sesuai kebutuhan anak. Di sisi lain, intervensi sensitif juga menjadi fokus, mencakup perbaikan sanitasi, penyediaan air bersih, pola asuh, hingga program bedah rumah dan pemenuhan pangan bergizi.
Adapun sasaran program ini meliputi remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Pemerintah daerah juga mendorong optimalisasi program makan bergizi gratis yang akan didukung oleh 43 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (SPPG 3T) yang segera beroperasi.
“Kita menggerakkan seluruh stakeholder, termasuk orang tua asuh dan berbagai pihak lainnya, untuk bersama-sama mempercepat penurunan stunting,” tambahnya.
Efrensia juga menyoroti anemia sebagai salah satu penyebab utama stunting, khususnya pada remaja putri. Oleh karena itu, upaya pencegahan dilakukan sejak dini melalui pemeriksaan kesehatan dan pemberian tablet tambah darah.
Ia menegaskan pentingnya penanganan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, sebagai periode krusial dalam mencegah stunting.
“Peran ibu sangat besar dalam memastikan kecukupan gizi sejak masa kehamilan. Namun, peran ayah juga penting sebagai pendukung dalam keluarga,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Gunung Mas juga akan memperkuat komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat, khususnya kelompok sasaran, guna meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pemenuhan gizi dan pola asuh yang tepat dalam upaya pencegahan stunting.

