Jurnalis Metro

Satu Wadah Informasi

Ayah yang Menjarah Karena Banjir dan Pertanyaan yang Menggugah Nurani: “Beranikah Pejabat Mencontohnya?”

Palangka Raya – Sebuah video sederhana berdurasi lebih dari satu menit yang sangat menyentuh nurani rakyat jelata saat ini mendadak viral di TikTok. Bukan tentang sensasi, bukan pula hiburan. Dalam video itu, seorang ayah di depan kamera sembari kepala tertunduk, suaranya bergetar, memohon maaf karena telah menjarah sebuah toko yang dikenal selama ini di Indonesia.

Banjir besar yang melanda wilayahnya telah merendam rumah, melumpuhkan jalan, memutus penghasilan, serta menyisakan pilihan-pilihan pahit. “Saya khilaf, … saya cuma ingin anak-anak tetap makan,” ujarnya dalam video itu. Netizen mendengarkan, sebagian meneteskan air mata. Ada yang marah, ada yang memaklumi. Namun semuanya sepakat: kejujuran ayah itu telah menyentuh hati banyak orang.

Di balik gelombang simpati itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih besar, lebih menggigit, dan lebih berat dijawab:
Jika seorang rakyat kecil berani mengakui kesalahan di depan publik, apakah para pejabat yang menjarah uang rakyat berani melakukan hal yang sama?

Untuk menggali lebih jauh, penulis berbincang dengan pemerhati sosial dan jurnalis senior, Hartany Soekarno, sosok yang empat dekade hidupnya dihabiskan di dunia pers, menyaksikan dari dekat naik turunnya moral pejabat negeri ini.

Saat dibincangi, di pendopo sederhana rumahnya Hartany tidak memilih kata-kata yang lembut. Kalimatnya lugas, bahkan sesekali terdengar getir.

Hartany telah melihat banyak. Dari ruang-ruang sidang pemerintahan, kantor lembaga negara, sampai lokasi-lokasi bencana dan wilayah terpencil.
“Delapan puluh tahun republik ini merdeka,” katanya pelan namun tajam, “dan selama 40 tahun saya berprofesi sebagai wartawan, semakin ke sini tak nampak ada perubahan yang positif untuk negeri dan bangsa ini.”ucapnya lagi.

“Semua yang diucap dan ditulis oleh penguasa pemerintah hanyalah formalitas saja,” ujarnya.
“Para politikus senantiasa sangat dominan mengendalikan roda pemerintahan. Alhasil, kebaikan dan keburukan rupa moral negeri ini tak bisa dilepaskan dari moral politikus itu.”tegasnya. Palangka Raya 1 Desember 2025.

Ia menatap jauh, seolah sedang mengingat perjalanan panjang bangsa ini yang tak kunjung menuntaskan lukanya. Publik merasakan ironi itu: seorang ayah miskin yang terhimpit bencana mampu meminta maaf secara terbuka. Sementara di layar televisi, pejabat yang terseret kasus korupsi justru sibuk mencari dalih, berlindung di balik jabatan, atau menyalahkan prosedur.

Dalam benak masyarakat, pertanyaannya sederhana namun menyayat:
Jika rakyat kecil bisa mengembalikan yang bukan miliknya, mengapa pejabat yang menjarah milyaran bahkan triliunan tak pernah benar-benar menundukkan kepala penyesalan bahkan tidak ada ucapan maaf kepada masyarakat?

Hartany merangkum kegelisahan itu dalam satu kalimat pedih yang menurutnya layak menghiasi sampul buku tentang republik ini: “Negeriku subur dan makmur. Subur korupsinya, makmur koruptornya.”

Kisah viral sang ayah mungkin akan tenggelam oleh arus konten baru, seperti halnya isu-isu negeri ini yang cepat menguap. Namun bagi sebagian orang, video itu adalah cermin: cermin yang memantulkan jurang antara moral rakyat kecil dan moral sebagian pejabat yang rakus.

Dan sekali lagi, Hartany menutup percakapan dengan kalimat yang menyayat namun jujur: “disini negara harus hadir paling depan, setiap rakyat membutuhkan, dan agar kejadian yang mengenaskan yang dialami oleh seorang ayah di video tik tok, jangan terulang kembali,” jelasnya,”Salam jurnalis untuk keadilan.” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini