Jurnalis Metro

Satu Wadah Informasi

Tradisi Manugal: Harmoni Manusia dan Alam dalam Prosesi Tanam Padi di Murung Raya

MURUNG RAYA.Di pedalaman Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, tradisi pertanian kuno masih terus hidup dalam kegiatan manugal, salah satu metode bercocok tanam masyarakat Suku Dayak. Pada hari Selasa, masyarakat Desa Mangkalisoi dan Desa Kalang Kaluh, Kecamatan Tanah Siang, berkumpul bersama dalam kegiatan tanam padi gunung, yang dipimpin langsung oleh calon Wakil Bupati dari pasangan calon (Paslon) NURANI, nomor urut 02, Dr. Doni, SP, M.Si.(02/10/2024).

Diiringi gemuruh semangat gotong royong, manugal dimulai dengan derap langkah bersama. Imanudin, S.Pd.i, salah satu anggota DPRD Kabupaten Murung Raya, juga hadir bersama tim NURANI. Mereka berpartisipasi dalam kegiatan ini, menunjukkan kepedulian terhadap kelestarian tradisi lokal yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat setempat.

Dalam wawancaranya, Dr. Doni menjelaskan, “Manugal bukan hanya sekadar kegiatan bercocok tanam, tetapi lebih dari itu. Ini adalah manifestasi hubungan harmonis antara manusia dan alam yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di sini, kami menanam bukan hanya dengan tangan, tetapi dengan hati, bersama-sama menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan budaya.”

Manugal menggunakan teknik sederhana namun penuh makna. Dengan tongkat kayu runcing bernama tugal, para petani membuat lubang-lubang kecil di tanah. Setiap lubang kemudian diisi dengan bibit padi ladang. Metode ini sangat berbeda dengan pertanian modern yang mengandalkan mesin. Alih-alih teknologi canggih, manugal menekankan kekuatan fisik dan kerja sama antaranggota masyarakat. Semua bekerja bersama, bahu-membahu, dalam irama yang sejalan dengan alam.

Bagi masyarakat Suku Dayak, manugal lebih dari sekadar rutinitas pertanian. Ini adalah simbol kebersamaan, di mana setiap individu memiliki peran dalam menjaga dan memelihara tradisi serta keberlangsungan pangan komunitas. Acara ini tidak hanya mengundang para petani, tetapi juga pemimpin masyarakat, tokoh adat, dan warga sekitar yang datang untuk memberikan dukungan moril.

Imanudin mengungkapkan bahwa kehadirannya dalam acara ini merupakan bentuk apresiasi terhadap kearifan lokal yang terus terpelihara di Murung Raya. “Kita harus melestarikan tradisi ini. Manugal mengajarkan kita banyak hal, mulai dari ketahanan, kerja sama, hingga pentingnya menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Kegiatan manugal tahun ini membawa pesan kuat akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam, serta merawat warisan leluhur yang terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak. Dengan demikian, manugal bukan hanya tentang menanam padi, tetapi juga menanam nilai-nilai kehidupan yang terus tumbuh bersama waktu.(JM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini