Jurnalis Metro

Satu Wadah Informasi

Embung Jadi Infrastruktur Strategis, Syaufwan Hadi Dorong Penguatan Pengendalian Air di Palangka Raya

PALANGKA RAYA – Menghadapi perubahan musim yang kerap menghadirkan dua persoalan berbeda, yakni ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat kemarau serta potensi genangan ketika musim hujan, pengelolaan sumber daya air menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan Kota Palangka Raya.

Di tengah kondisi geografis yang didominasi kawasan gambut, keberadaan infrastruktur penampungan air seperti embung dinilai memiliki arti strategis. Tidak sekadar menjadi tempat menyimpan cadangan air, embung juga berperan sebagai bagian dari sistem pengendalian tata air yang dapat memberikan manfaat dalam berbagai kondisi cuaca.

Wakil Ketua II Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Syaufwan Hadi, menilai langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya dalam membangun embung dan merehabilitasi kanal di sejumlah kawasan merupakan upaya penting untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla sekaligus mengantisipasi persoalan genangan.

Menurutnya, infrastruktur tersebut memiliki fungsi yang saling berkaitan, terutama dalam menjaga ketersediaan air ketika musim kemarau. Embung dapat menjadi sumber air alternatif yang lokasinya lebih dekat dengan kawasan rawan kebakaran, sehingga mendukung proses pemadaman apabila sewaktu-waktu terjadi karhutla.

“Infrastruktur embung ini memiliki manfaat besar sebagai tempat penampungan sekaligus penyedia cadangan air. Keberadaannya dapat mendukung upaya pemadaman apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan,” ujar Syaufwan, Kamis (5/11/2026).

Ia menjelaskan, manfaat embung tidak berhenti pada upaya penanggulangan kebakaran. Ketika musim hujan tiba, fasilitas tersebut juga dapat membantu menampung limpasan air sehingga beban saluran drainase dan kawasan aliran air dapat lebih terkendali.

Dengan sistem penampungan yang terkelola baik serta didukung kondisi kanal yang berfungsi optimal, potensi genangan di lingkungan permukiman maupun sejumlah titik yang selama ini rawan banjir diharapkan dapat ditekan.

Bagi Syaufwan, pembangunan embung merupakan investasi infrastruktur yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Terlebih, karakteristik wilayah Palangka Raya yang memiliki ekosistem gambut membutuhkan tata kelola air yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga dirancang melalui perencanaan yang matang dan berkesinambungan.

Karena itu, ia berharap pengembangan embung tidak terpusat pada satu lokasi saja. Pemerintah daerah perlu memetakan kawasan-kawasan yang memiliki kebutuhan mendesak terhadap fasilitas penampungan air, sehingga pembangunan dapat menjangkau wilayah yang benar-benar membutuhkan.

Di sisi lain, rehabilitasi kanal dan pemeliharaan saluran air harus menjadi perhatian berkelanjutan. Sebab, keberadaan infrastruktur yang dibangun tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tidak diimbangi perawatan serta pengelolaan yang konsisten.

Syaufwan juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, DPRD, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur pengendalian air. Partisipasi masyarakat diperlukan agar fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan sekaligus dijaga fungsinya.

Ia berharap, penguatan pembangunan embung dan perbaikan jaringan kanal dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang Kota Palangka Raya dalam menghadapi dinamika perubahan cuaca.

“Harapannya, pembangunan infrastruktur embung dapat menjadi salah satu solusi berkelanjutan untuk memperkuat kesiapsiagaan Kota Palangka Raya, baik dalam menghadapi ancaman karhutla saat kemarau maupun mengurangi risiko genangan ketika musim hujan,” pungkasnya.