DPRD Murung Raya Dorong Pemda Optimalkan Pencegahan dan Penanganan Karhutla
MURUNG RAYA – Anggota DPRD Murung Raya, Fitriiadi Faiq, mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) setempat untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang berpotensi mengakibatkan kabut asap. Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya kesiapan sarana dan prasarana serta kolaborasi antara pemangku kepentingan, termasuk perusahaan, guna mempercepat penanganan jika terjadi kebakaran.
Dalam pertemuan pada Selasa (16/10/2023), Fitriiadi menyoroti perlunya langkah-langkah konkret untuk menghadapi potensi Karhutla, terutama mengingat prediksi puncak musim kemarau 2023 yang diperkirakan terjadi pada bulan September. Menurutnya, optimalisasi sarana pendukung dan sinergi dengan berbagai pihak sangat dibutuhkan dalam menghadapi bencana tahunan ini.
“Sarana dan prasarana atau fasilitas penanganan Karhutla harus disiapkan. Berkolaborasi dengan semua, termasuk perusahaan, untuk mempermudah proses penanganan jika terjadi Karhutla,” ujarnya.
Antisipasi Risiko Kesehatan dan Lingkungan
Fitriiadi juga menyoroti dampak kesehatan dari kabut asap, yang telah menjadi ancaman serius bagi masyarakat di wilayah yang terdampak Karhutla. Meski upaya antisipasi dalam beberapa tahun terakhir dinilai cukup berhasil, ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas pencegahan agar bencana kabut asap tidak kembali terjadi.
“Dalam beberapa tahun terakhir, Karhutla dapat diantisipasi, dan tahun ini diharapkan antisipasi bisa dilakukan juga, sehingga kabut asap tidak terjadi. Karena, apabila itu terjadi, maka akan berdampak terhadap berbagai aspek, salah satunya kesehatan,” tegasnya.
Kasus kabut asap pada beberapa tahun lalu telah menimbulkan banyak masalah kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), di samping merusak ekosistem dan sektor ekonomi, terutama di wilayah Kalimantan.
Sosialisasi dan Peran Masyarakat
Lebih lanjut, Fitriiadi menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat melalui sosialisasi yang berkelanjutan mengenai bahaya Karhutla. Menurutnya, kesadaran masyarakat dalam menghindari praktik-praktik yang berisiko memicu kebakaran hutan, seperti membuka lahan dengan cara dibakar, harus terus didorong.
“Kesadaran masyarakat adalah kunci dalam upaya pencegahan. Pemerintah harus terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya dan dampak Karhutla,” tambahnya.
Ia berharap, dengan upaya yang terintegrasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, bencana Karhutla dapat ditekan secara signifikan. Hal ini diharapkan dapat melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakat serta mencegah terulangnya bencana kabut asap yang pernah melumpuhkan beberapa wilayah di Indonesia.
Menghadapi Ancaman Berulang
Kabut asap akibat Karhutla bukan hanya masalah tahunan di Murung Raya, namun juga di beberapa wilayah lain di Indonesia, khususnya di Kalimantan dan Sumatra. Dengan cuaca yang semakin ekstrem dan perubahan pola iklim, potensi kebakaran hutan dan lahan kian mengkhawatirkan. Fitriiadi menekankan, kolaborasi antara pemda, dunia usaha, dan masyarakat menjadi sangat penting dalam menekan ancaman ini.
“Masyarakat, pemerintah, dan perusahaan harus bahu-membahu, karena ancaman Karhutla ini akan terus ada, terutama di musim kemarau yang panjang. Langkah antisipasi dan penanganan harus terus diperbaiki,” katanya.
Dengan koordinasi yang lebih kuat dan strategi yang lebih matang, ia optimistis kabut asap dapat dicegah, sehingga masyarakat tidak perlu lagi menghadapi dampak negatif yang ditimbulkan oleh Karhutla di masa mendatang.(JM)

Tinggalkan Balasan