DPRD Kalteng Dorong Percepatan PLTS untuk Perkuat Ketahanan Listrik Daerah
Palangka Raya — Sebagai bentuk respons terhadap masih terjadinya pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, DPRD Kalteng mendorong percepatan pengembangan energi terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sebagai solusi jangka panjang guna memperkuat ketahanan energi di daerah.
Anggota Komisi IV DPRD Kalteng, Asdy Narang, menilai Kalimantan Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan PLTS karena didukung wilayah yang luas serta intensitas sinar matahari yang melimpah. Menurutnya, pemanfaatan energi surya dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan pemerataan akses listrik, terutama bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan kelistrikan secara optimal.
Asdy mengatakan, keberadaan PLTS tidak hanya berperan dalam memperluas layanan listrik hingga ke daerah terpencil, tetapi juga mendukung pembangunan berkelanjutan karena menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan.
“PLTS menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di kawasan yang masih memiliki keterbatasan akses jaringan. Dengan begitu, pemerataan pembangunan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat dapat terus didorong,” ujarnya, Selasa (30/6/2026).
Ia menambahkan, pemadaman listrik yang belakangan terjadi menjadi pengingat pentingnya memperkuat sistem kelistrikan melalui diversifikasi sumber energi. Ketergantungan pada satu sistem pasokan dinilai berpotensi menimbulkan gangguan yang berdampak terhadap berbagai sektor apabila terjadi kendala teknis.
Menurut Asdy, dampak pemadaman tidak hanya dirasakan masyarakat di sektor rumah tangga, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan, pelayanan kesehatan, pemerintahan, hingga kegiatan ekonomi masyarakat. Karena itu, penguatan ketahanan energi perlu menjadi perhatian bersama.
Ia juga mendorong agar program elektrifikasi yang selama ini dijalankan bersama PLN terus diperluas dengan mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan. PLTS dinilai menjadi pilihan yang efektif untuk melayani desa-desa terpencil maupun kawasan yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional.
Meski demikian, Asdy menegaskan bahwa pengembangan PLTS bukan dimaksudkan menggantikan pasokan listrik dari PLN, melainkan sebagai sistem pendukung yang dapat meningkatkan keandalan pasokan energi. Dengan tersedianya lebih dari satu sumber listrik, risiko terganggunya aktivitas masyarakat akibat gangguan pada jaringan utama dapat ditekan.
Ia pun berharap terjalin kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, PLN, dunia usaha, dan masyarakat agar pengembangan energi terbarukan di Kalimantan Tengah dapat dipercepat.
“Kami berharap seluruh masyarakat dapat menikmati akses listrik yang merata, baik melalui jaringan PLN maupun pemanfaatan energi terbarukan, sehingga tidak ada lagi warga yang mengalami kesulitan memperoleh pasokan listrik,” tegasnya.

