Jurnalis Metro

Satu Wadah Informasi

Manfaatkan Musim Hujan untuk Bercocok Tanam, Hatir Sata Tarigan Ingatkan Petani Siaga Hadapi Kemarau

PALANGKA RAYA Rabu 4 November 2026 – Turunnya hujan di Kota Palangka Raya membawa harapan baru bagi sektor pertanian. Setelah menghadapi periode cuaca panas dan keterbatasan air, para petani kini memiliki kesempatan untuk kembali mengoptimalkan lahan produktif dan memulai masa tanam dengan memanfaatkan ketersediaan air hujan.

Namun, kesempatan tersebut perlu disikapi dengan perencanaan yang matang. Musim hujan bukan berarti petani dapat sepenuhnya melupakan ancaman kekeringan. Sebab, perubahan cuaca yang dinamis tetap menyimpan potensi datangnya musim kemarau kembali setelah Desember mendatang.

Pesan itulah yang disampaikan Anggota Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Hatir Sata Tarigan, pada Kamis (29/10/2026I, dikutip dari beberapa media lokal, Ia mengimbau para petani agar tidak menyia-nyiakan momentum meningkatnya curah hujan untuk mengolah lahan, mempersiapkan bibit, serta memulai kegiatan bercocok tanam.

Menurutnya, ketersediaan air selama musim hujan merupakan peluang penting bagi petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Karena itu, kondisi tersebut perlu dimanfaatkan secara optimal, terutama dengan menyesuaikan pola tanam terhadap kondisi cuaca dan karakteristik lahan masing-masing.

Meski demikian, Hatir mengingatkan agar para petani tidak terlena dengan turunnya hujan. Persiapan menghadapi kemungkinan berkurangnya curah hujan setelah Desember harus mulai dilakukan sejak sekarang, sehingga sektor pertanian tidak kembali dihadapkan pada persoalan kekurangan air ketika musim kemarau tiba.

Salah satu langkah yang dinilai perlu diperkuat adalah penyediaan sumber air alternatif melalui pembangunan sumur bor di kawasan pertanian maupun perkebunan.

Menurutnya, keberadaan sumur bor dapat menjadi salah satu solusi untuk menjaga ketersediaan air ketika hujan mulai jarang turun. Dengan demikian, petani memiliki sumber air cadangan yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tanaman, sekaligus mengurangi ketergantungan sepenuhnya terhadap curah hujan.

Upaya tersebut juga perlu menjadi bagian dari perencanaan pertanian jangka panjang. Sebab, keberhasilan masa tanam tidak hanya ditentukan oleh kesiapan lahan dan bibit, tetapi juga kemampuan petani menjaga ketersediaan air sepanjang siklus pertumbuhan tanaman.

Hatir berharap para petani di Palangka Raya dapat memanfaatkan musim hujan secara produktif, sembari membangun kesiapsiagaan menghadapi perubahan musim. Langkah antisipasi sejak dini dinilai jauh lebih baik dibandingkan harus mencari solusi ketika tanaman mulai terdampak kekeringan.

Pada akhirnya, hujan bukan sekadar berkah yang datang silih berganti, melainkan momentum yang perlu dikelola dengan bijak. Dengan memaksimalkan masa tanam saat air tersedia dan menyiapkan sumber air alternatif untuk menghadapi kemarau, petani diharapkan mampu menjaga keberlanjutan produksi pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.