Udara Palangka Raya Kian Membaik, Debora Dorong Kesiapan Pariwisata Sambut Libur Akhir Tahun
PALANGKA RAYA – Hujan yang mulai membasahi Kota Palangka Raya membawa harapan baru setelah wilayah ini sempat diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berangsur membaiknya kualitas udara bukan sekadar kabar baik bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk membangkitkan optimisme sektor pariwisata menjelang libur akhir tahun.
Di tengah peluang meningkatnya mobilitas masyarakat pada penghujung tahun, kesiapan destinasi wisata dan berbagai fasilitas pendukung menjadi perhatian penting. Sebab, daya tarik sebuah daerah wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam dan keunikan budayanya, tetapi juga kenyamanan perjalanan serta kualitas pelayanan yang diterima pengunjung.
Seperti yang dikutip dari media lokal Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Debora Holdae Veronika Lesa, berharap membaiknya kondisi udara dapat memberikan dampak positif terhadap kelancaran transportasi udara sekaligus membuka peluang lebih besar bagi peningkatan kunjungan wisatawan ke Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah tersebut.
Menurutnya, kabut asap yang sebelumnya menyelimuti Palangka Raya berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor transportasi, tetapi juga dapat merembet pada rencana perjalanan wisatawan hingga aktivitas ekonomi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada sektor pariwisata.
“Kelancaran transportasi udara menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kunjungan wisatawan ke Kota Palangka Raya. Gangguan penerbangan akibat kabut asap berpotensi memengaruhi rencana perjalanan wisatawan serta aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sektor pariwisata,” ujarnya, Senin (2/11/2026).
Debora memandang momentum libur akhir tahun sebagai peluang strategis yang perlu dipersiapkan secara serius. Potensi kedatangan wisatawan harus disambut dengan kesiapan yang matang, sehingga Palangka Raya tidak hanya menjadi daerah persinggahan, tetapi juga mampu menawarkan pengalaman wisata yang berkesan.
Karena itu, ia mengingatkan dinas terkait agar tidak menunggu lonjakan pengunjung untuk mulai melakukan pembenahan. Promosi destinasi unggulan perlu diperkuat, sementara kebersihan kawasan wisata, keamanan, aksesibilitas, serta fasilitas pendukung harus dipastikan dalam kondisi layak dan memadai.
“Selain promosi, koordinasi lintas sektor juga diperlukan untuk memastikan destinasi wisata, akses transportasi, kebersihan lingkungan, dan fasilitas umum berada dalam kondisi siap menyambut pengunjung,” tegasnya.
Lebih jauh, Debora menekankan bahwa keberhasilan pembangunan pariwisata tidak semestinya hanya diukur dari tingginya angka kunjungan. Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana geliat pariwisata mampu menciptakan perputaran ekonomi dan menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
Peningkatan kunjungan wisatawan, menurutnya, harus menjadi peluang bagi tumbuhnya berbagai usaha lokal. Mulai dari penginapan, rumah makan, usaha kuliner, jasa transportasi, hingga pelaku usaha mikro dan kecil di sekitar kawasan wisata.
Dengan demikian, sektor pariwisata dapat berkembang sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah, sekaligus membuka ruang usaha dan memperluas kesempatan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Potensi pariwisata Palangka Raya perlu dikelola secara optimal agar tidak sekadar menjadi daya tarik kunjungan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Karena itu, promosi harus berjalan beriringan dengan pembenahan destinasi dan peningkatan kualitas pengelolaan wisata,” pungkasnya.
Bagi Palangka Raya, membaiknya kualitas udara menjadi awal yang patut disyukuri. Namun, peluang untuk menghidupkan sektor pariwisata tidak cukup hanya bergantung pada perubahan cuaca. Diperlukan kesiapan, kolaborasi, dan pengelolaan yang berkelanjutan agar momentum libur akhir tahun benar-benar menjadi pintu masuk bagi pertumbuhan pariwisata dan ekonomi masyarakat.
