Malam Silaturahmi dan Makna Idealisme Jurnalistik
Palangka Raya — Malam itu, sebuah pendopo rumah sederhana di Kota Palangka Raya menghadirkan suasana yang berbeda. Bukan sekadar karena udara sejuk yang menyelimuti kota, melainkan karena kehangatan batin yang lahir dari sebuah silaturahmi. Pertemuan itu mempertemukan jurnalis senior Kalimantan Tengah, Hartany Soekarno, dengan H. Lutfi bersama Tim Kalsel Pos, Senin (2/2/2026).
Pertemuan tersebut jauh dari kesan agenda resmi atau seremoni formal. Ia tumbuh alami, mengalir sebagai perjumpaan para insan pers yang sama-sama memikul tanggung jawab moral terhadap profesinya. Sejumlah jurnalis Kalimantan Tengah turut hadir, menyimak dengan khidmat kisah-kisah masa lalu yang disampaikan oleh sosok yang telah puluhan tahun mengabdikan hidupnya di dunia jurnalistik.
Dengan tutur kata tenang dan bersahaja, Hartany Soekarno mengajak hadirin menengok kembali perjalanan pers di Bumi Tambun Bungai—sebuah masa ketika keterbatasan justru melahirkan kekuatan. Idealisme menjadi modal utama, dan kebersamaan menjadi fondasi yang mengokohkan langkah.
“Dulu, kami membangun pers dengan semangat kebersamaan,” ungkapnya.
Pernyataan itu bukan sekadar nostalgia, melainkan kritik halus terhadap realitas pers hari ini. Pada masa itu, pers tidak hanya berfungsi sebagai media publikasi, tetapi sebagai ruang perjuangan.
Kode etik jurnalistik dijunjung tinggi, bukan sebagai jargon, melainkan sebagai pagar moral yang menuntun setiap kerja jurnalistik. Pers hadir sebagai kontrol sosial—mengawal kebijakan publik, mengingatkan ketika kekuasaan mulai melenceng, dan berdiri di sisi kepentingan rakyat.
Cerita-cerita yang mengalir malam itu membawa suasana kembali ke era ketika tinta dan kertas menjadi senjata utama. Tidak ada gemerlap popularitas, apalagi ambisi pribadi. Yang ada hanyalah kesadaran kolektif bahwa pers memikul tanggung jawab sejarah: merekam peristiwa, menyuarakan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan.
Namun waktu terus bergerak. Zaman berubah cepat. Teknologi berkembang pesat, dan arus informasi mengalir tanpa henti. Di tengah perubahan itu, Hartany menegaskan satu hal penting: modernisasi tidak boleh menggerus esensi jurnalistik. Nilai-nilai dasar harus tetap menjadi pijakan, seberapa deras pun arus zaman menerpa.
Ia menaruh harapan besar pada generasi jurnalis hari ini—agar kekompakan tidak tergerus oleh kompetisi sempit, dan kode etik jurnalistik tidak berhenti sebagai hafalan, melainkan dijalankan dengan kesadaran dan tanggung jawab.
“Teruslah berkarya dan menulis,” pesannya singkat, namun penuh makna.
Bagi Hartany, menulis bukan semata menyampaikan berita. Menulis adalah upaya menghadirkan keadilan, memberi ruang bagi suara-suara yang kerap terpinggirkan, serta memastikan kepentingan rakyat tidak tenggelam dalam hiruk-pikuk kekuasaan.
Silaturahmi malam itu pun menjelma menjadi ruang refleksi. Sebuah pengingat bahwa pers yang kuat tidak lahir dari sensasi, melainkan dari integritas, kejujuran, dan kebersamaan. Dari pendopo sederhana itu, nilai-nilai lama kembali diwariskan agar tetap hidup, bertahan di tengah tantangan zaman, dan terus menjadi cahaya kecil yang setia menerangi jalan kebenaran.

Tinggalkan Balasan